cool hit counter

PDM Kota Yogyakarta - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Yogyakarta
.: Home > Berita > Kader Muhammadiyah Jadi Sekda

Homepage

Kader Muhammadiyah Jadi Sekda

Jum'at, 07-09-2012
Dibaca: 1715

Nasikhin: "Mudah-mudahan saya tidak takabur"

 

MUHAMMADIYAH kembali menyumbangkan kader pilihannya untuk jabatan formal.   Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang, Drs. H. Nasikhin, kini memangku jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten Batang dan dilantik Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo  pada 24 Juli 2012.  Beliau sempat merasa kurang nyaman dengan kemunculan iklan “ucapan selamat” di media cetak tingkat nasional. “Mudah-mudahan saya tidak takabur…” ucapnya.

 

Nasikhin lahir di Batang, 3 April 1963 di Desa Kalibalik Kecamatan Banyuputih (dulu Limpung). Menjalani karier sebagai PNS selama 23 tahun. Awalnya menjabat sebagai staf bagian kepegawaian pada 1989.  Tujuh tahun kemudian menjabat Kasubag Mutasi, kemudian dipindah ke Kabag Sospol untuk mempersiapkan Pemilu pertama di era Reformasi. Berikutnya dipindah ke Dipenda sejak 2000-2008. Selanjutnya sempat pula mencicipi jabatan-jabatan pendek antara lain sebagai Kabag Persidangan di Sekretariat Dewan selama 10 bulan, menjadi Kabag Organisasi 6 bulan, Kabag Umum 1 tahun, staf ahli 10 bulan,  Kepala DPKAD 1 tahun sebelum akhirnya menjabat. Sekretaris Daerah.  

Riwayat pendidikan lulus SDN Kalibalik (1976), lulus Mts Kemiri Subah (1979), lulus Madrasan Aliyah Muhammadiyah (MAM) Batang tahun 1983. Lulus Fisipol UNS (1988). Adapun pengalaman keorganisasian ditempa semenjak di MAM Batang sebagai Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ketua Pemuda Muhammadiyah Batang  selama dua periode dan terakhir Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang juga dua periode. Pencapaian  tersebut  diakuinya tidak lepas dari peran seorang ibu yang terus berdoa untuk kebaikan putranya.
 
Sebagai kader bangsa, beliau siap mendedikasikan diri untuk kepentingan ummat dan bangsa. Sebagai pejabat no-3 di Batang, sejauh manakah  pandangan beliau terhadap jalannya pemerintahan di kabupaten Batang dan langkah-langkah apa yang akan ditempuh pemerintah untuk memajukan masyarakat Batang? Berikut ini petikan wawancara Kawe Shamudra dan Muntoro Abdurrahman dari situs batang.muhammadiyah.or.id di kediaman beliau Jl. RE Martadinata Batang, belum lama ini.


Menurut Bapak, apa yang sebaiknya dilakukan warga Muhammadiyah sekarang?
Menjelang abad kedua, warga Muhammadiyah harus konsen dan komitmen pada cita-cita persyarikatan.  Dulu KH Ahmad Dahlan bersama murid-muridnya (dengan landasan Alquran Surah Ali Imran 104) bersatu membentuk persyarikatan Muhammadiyah. Namun sekarang muncul paradoks. Sesuatu yang sudah bersatu justru bercerai-berai.

Seperti apa indikasi perpecahan itu?
Bisa dicermati dari terjadinya konflik-konflik di sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) akibat perbedaan pandangan dalam hal-hal tertentu. Mestinya kita mengikuti ayat berikutnya ayat 105. (Beliau mengutip ayat: ”Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”).
Ideologi Muhammadiyah itu sudah benar, maka harus kita pertahankan dengan baik dengan semangat persatuan, bukan perpecahan.

Langkah-langkah apa saja yang mesti ditempuh untuk mempertahankan Muhammadiyah?
Ada lima hal yang harus diperhatikan. Pertama, memperjuangkan tauhid yang murni yang menjadi missi utama Muhammadiyah. Kedua, memahami Alquan dan Hadits secara mendalam. Tidak sekadar membaca, tetapi juga mentadaburi dengan mendalami dan merenungi maknanya sehingga akan muncul kreatifitas baru dalam menyelesaikan persoalan. Ketiga, melembagakan amal-amal shaleh yang diperintahkan Allah Swt agar terlaksana dengan baik. Keempat, kita hendaknya tidak hanya terpaku pada orientasi masa lalu tetapi perlu berorientasi ke depan. Kita tidak hanya bisa bangga bahwa Muhammadiyah dulu hebat. Masa lalu hanya sebagai bahan reverensi untuk melangkah ke depan yang lebih baik. Kelima, tetap bersifat moderat, toleran dan bekerja sama dengan pihak lain. Bagaimana warga Muhammadiyah bisa mempertahankan Islam yang berkemajuan, sebagaimana ditulis sejumlah ahli diantaranya Dr Abdul Mu’ti.

Ini pertanyaan khusus, menurut Bapak, bagaimana sebaiknya sikap warga Muhammadiyah jika ada kader yang mendapat amanat menduduki jabatan publik?
Mestinya warga Muhammadiyah mendukung dalam arti mendoakan agar yang bersangkutan tetap amanah dan berhasil menjalankan tugasnya dan jangan pernah punya harapan mendapatkan keuntungan bersifat materi. Demikian juga pada kader Muhammadiyah yang menduduki jabatan publik , mestinya bisa berpikir pada kerangka yang lebih luas, tidak boleh berpikir hanya untuk kepentingan organisasi semata. Tetapi harus berpikir secara luas, bisa berbuat adil dan sanggup melepaskan pemikiran dari konteks asalnya sehingga benar-benar bisa bermanfaat lebih luas. Hal-hal demikian sebenarnya sudah ditanamkan kepada Pemuda Muhammadiyah selaku kader persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa. Dalam konteks kader persyarikatan harus bisa menunjukkan komitmennya pada organisasi, sebagai kader ummat harus bisa menunjukkan kontribusinya pada seluruh ummat, sebagai kader bangsa bisa bermanfaat tidakhanya bagi organisasi, tetapi yang lebih luas lagi. Jangan sampai Muhammadiyah di-cap negative karena mementingkan kelompoknya sendiri.

Bisa diberikan contoh konkritnya?
Saya melihat kalau kita benar-benar  warga Muhammadiyah asli pasti memahami nilai-nilai dan filosofi Muhammadiyah.  Sejumlah kader Muhammadiyah yang  menduduki jabatan tertentu di pemerintahan tidak hanya mementingkan kelompoknya sendiri. Mereka berbuat untuk masyarakat luas. Muhammadiyah hanya sebagai sumber pendidikan yang mencetak kader kemudian disumbangkan untuk kemaslahatan bangsa. Maka jangan sampai amanat disia-siakan.

Apa langkah-langkah yang akan dilakukan Pemerintah Daerah untuk memajukan Batang?
Menata birokrasi yang bersih di Kabupaten Batang masuk dalam skala prioritas melalui pembinaan SDM, penataan kelembagaan, penegakan kedisiplinan dan peningkatan kinerja PNS.  Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari usaha  merubah Batang  agar semakin baik. Perubahan bisa terjadi jika didukung tiga hal. Pertama, kemauan kuat untuk melakukan perubahan. Kemauan  yang didasari kesadaran dalam  menjalankan kewajiban sebagai pegawai pemerintahan. Kedua, memiliki nilai-nilai yang menjadi reverensi, misalnya Batang mau dibawa kemana, mau dijadikan apa dan lain sebagainya. Ketiga, penguasaan ilmu dan teknologi.

Kenapa hal tersebut diprioritaskan?
Paradigma sebagian PNS masih berkutat pada apa yang akan didapat, bukan apa yang harus diperbuat untuk masyarakat. Proyek dengan berbagai rangkaian dan dimensinya  selalu berhadapan dengan berbagai tantangan.  Sebagian PNS mestinya tidak hanya bisa menuntut hak tetapi juga  menjalankan kewajiban dengan baik.
Sampai kini masih dijumpai orang ramai-ramai melakukan sertifikasi tetapi yang dikejar hanya lembaran sertifikat dan penghasilan, bukan bagaimana berupaya meningkatkan kinerja.

Menurut Bapak, bagaimana seharusnya PNS bekerja?
Dalam terminologi  agama, bekerja merupakan bagian dari ibadah.  Ibadah bisa berhasil  jika sudah sampai pada  taraf ihsan, yakni beribadah seolah-olah melihat Allah. Kalau tidak bisa melihat merasa yakin bahwa Allah selalu mengawasi kita.  Ihsan dalam pengertian keseharian tentunya bekerja secara professional sesuai ketentuan yang berlaku dengan dilandasi etos dan etika. Sikap tersebut dapat melahirkan dua sikap positif, yakni rasa syukur dan sabar. Syukur jika sukses menjalankan tugas.  Sabar jika hasilnya belum maksimal.

Sejauh mana peran pemimpin dalam menentukan perubahan?
Pemimpin berperan besar dalam membawa perubahan.  Diperlukan sedikitnya tiga  syarat bagi pemimpin. Pertama, pemimpin harus punya visi, missi dan konsistensi. Artinya, visi-missi bukan sekadar pajangan, tetapi harus  dilaksanakan secara konsisten. Pemimpin juga harus punya pengaruh sekaligus mampu memengaruhi orang lain untuk berbuat lebih baik. Harus bisa menerjemahkan  pola-pola kepemimpinan yang kreatif dan efektif didasarkan bakat dan pemahaman teoritis yang mendalam.  Ketiadaan  landasan teori hanya melahirkan pemimpin karbitan. Pemimpin yang hanya berorientasi pada jabatan dan materi. Dan yang tidak kalah penting adalah aspek keteladanan. Tanpa keteladanan adalah no leadership.  Prinsip-prinsip tersebut sesungguhnya tercermin  pada pola kepemimpinan Rasulullah Saw yang dalam waktu kurang dari seperempat abad terbukti sukses melakukan perubahan dalam skala global.

Kapan dan dari mana perubahan akan dimulai?
Sikap masyarakat juga ikut berperan dalam proses perubahan. Perubahan sesungguhnya bisa dimulai dari diri sendiri sebelum  mengharapkan perubahan dari pihak  lain.  Lagi-lagi ini terkait dengan keteladanan. Lewat keteladanan, pihak lain akan mengikuti di belakangnya. Perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang mudah dilakukan secara individu maupun kelembagaan. 
Pekerjaan yang tampak kecil-kecil jika dilakukan penuh kreativitas lama-lama  akan melahirkan  perubahan besar jika dilakukan bersama-sama. Tidak perlu menunggu momen-momen khusus karena setiap saat dan kapanpun waktunya perubahan bisa dilakukan.

Apa makna sidak yang dilakukan Bupati Batang ke sejumlah instansi belum lama ini, apakah itu efektif membawa perubahan?
Sidak hanyalah langkah jangka pendek untuk merangsang perubahan  mind set berpikir dan bekerja, khususnya kalangan  PNS. Memang membutuhkan kerja ekstra keras untuk merubah pola pikir PNS.
Selanjutnya  diperlukan langkah-langkah yang lebih mendalam, yakni pemberian reward dan punishment.  Siapapun yang terbukti menyeleweng harus ditindak tegas, sebaliknya yang berprestasi diberi penghargaan.  Hanya saja, prinsip-prinsip tersebut umumnya belum bisa diaplikasikan secara baik di berbagai lembaga, termasuk pemerintahan.

 

Sumber Foto: www.batang.go.id dan Google


Tags: Sekda Batang, Muhammadiyah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website